in

Aku Memutuskan untuk Tidak Menikah. Bukan Karena Trauma, Ini Semata Soal Pilihan Saja

Menikah dan tidak menikah adalah pilihan
via https://www.pexels.com

Memiliki pilihan yang berbeda dengan kebanyakan orang memang penuh risiko. Dari awal aku memutuskan untuk tidak menikah, tidak pernah sekalipun orang membiarkan topik itu berlalu dengan sederhana. Selalu sukses mengundang tanya. Kenapa, kenapa, dan kenapa? Seolah, pilihan yang kuambil ini bisa mempengaruhi kondisi dunia. Padahal aku hanya menolak pernikahan untuk diriku sendiri, bukan melarang orang lain melakukannya.

Selain karena terlalu mandiri, tidak terlalu berminat merasakan pahit-manisnya orang berpacaran, banyak yang mengiraku pernah disakiti oleh cinta di masa lalu. Yang menuding terlalu pemilih ketika mencari pasangan juga tidak sedikit. Padahal alasanku tidak selalu begitu.

Memilih langkah hidup tidak melulu karena kepahitan di masa lalu. Justru karena memikirkan masa depan, aku memutuskan tidak menikah

masa laluku baik-baik saja via www.pexels.comAdvertisement

Masa lalu memang punya peran untuk membentuk pribadi kita yang sekarang.  Tapi, kalau merancang masa depan hanya atas dasar kepahitan masa lalu, sungguh disayangkan.  Harapan di masa depan terlalu berharga untuk dihalangi bayangan masa lalu. Dari pada fokus ke masa laluku yang sebenarnya juga baik-baik saja, aku lebih memilih menyusun masa depan sesuai dengan kapasitas yang kupunya.

Ada satu hal yang kukagumi dari mereka yang menikah dan juga bekerja. Mereka mampu menyeimbangkan waktu keduanya. Bagiku, butuh fokus yang tinggi dan waktu yang banyak untuk mencapai target-target yang sudah tersusun. Seperti berbagai proyek pekerjaan dan melakukan kegiatan sosial. Kalau harus membagi waktuku dengan hal lain lagi, target itu tidak akan tercapai dengan maksimal. Dari situlah, keputusan untuk tidak menikah itu muncul. Karena kurasa itu bukanlah hal yang bisa dan ingin kulakukan.

Banyak yang bilang menikah itu tanda seseorang sudah dewasa dan berkembang. Tapi bagiku, mengembangkan diri bisa melalui berbagai cara

Kita bisa dewasa melalui banyak hal via www.pexels.com

Pernikahan itu membutuhkan tanggung jawab yang besar. Berbagi kehidupan, mencari nafkah, dan mendidik anak bukan perkara mudah. Tempaan hidup seperti itu bisa membuat mereka yang menikah menjadi lebih dewasa. Karenanya pernikahan dianggap sebagai titik puncak keberanian seseorang untuk mengambil tanggung jawab yang besar.

Berangkat dari situ, keputusanku untuk tidak menikah seringkali membuatku dianggap pengecut dan tidak berani mengambil risiko. Padahal, menandai kedewasaan manusia tidak cukup dari satu sisi. Meskipun aku memilih tidak menikah, aku bisa belajar dewasa dari banyak hal. Contohnya lewat pekerjaan dan eitttss … menanggapi banyak stereotip tentangku setiap harinya saja sudah membuatku lebih dewasa lo!

Memilih untuk tidak menikah bukan berarti tidak akan merasakan kebahagiaan. Toh, sumber kebahagiaan tidak cuma satu saja

Berbagi kebahagiaan dengan sesama via www.pexels.com

Definisi kebahagiaan setiap orang berbeda-beda. Banyak orang yang menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya pilihan agar bahagia. Saat memutuskan untuk tidak menikah dan memperbincangkannya dengan teman-teman, mereka mengkhawatirkan kebahagiaanku di masa depan. Seakan-akan apa yang sudah kukerjakan selama ini bukan untuk kebahagiaanku.

Aku merasa bahagia ketika bermanfaat untuk orang lain. Melihat orang lain tertolong oleh pekerjaanku, berbagi kasih lewat kegiatan sosial, menghabiskan waktu mengurus orangtua di rumah adalah pengalaman berharga yang tidak terbayarkan oleh apa pun. Tak apa ‘kan bila bahagia versiku dengan orang-orang sedikit berbeda?

Banyak pilihan untuk menentukan puncak kehidupan. Hanya saja, bagiku pernikahan bukan salah satunya

Pilih prioritas hidupmu via www.pexels.com

Tidak ada salahnya kalau orang lain menempatkan pernikahan sebagai puncak kehidupan. Itu berarti mereka memprioritaskannya. Namun, bukankah prioritas setiap orang tidak harus sama? Jadi, kalau aku menempatkan pekerjaan dan orangtua sebagai prioritas utamaku, seharusnya sah-sah saja kan? Lagi pula, bagiku pribadi, menempatkan pernikahan sebagai puncak kehidupan itu keliru. Sebab, pernikahan hanyalah sebuah titik awal dari proses panjang yang harus dilalui sebagai pasangan maupun personal.

Dicintai orang lain memang membuat bahagia. Tapi berbagi cinta untuk diri sendiri telanjur membuatku nyaman

Nyaman dengan diri sendiri via www.pexels.com

Terdengar egois? Sebenarnya tidak. Aku hanya sudah menerima diriku dan paham nilai-nilai hidup yang akan kuperjuangkan. Mencintai diri sendiri juga membuatku semakin menata hidup. Mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi di depan, karena bisa saja aku harus hidup sendirian.

Menghargai dan menghormati pilihan hidup orang lain memang tidak sesederhana kedengarannya. Salah satunya pernikahan. Orang bilang menikah itu pilihan. Kalau begitu, tidak menikah pun seharusnya juga pilihan. Dan sorotan negatif itu semestinya tidak perlu kudapatkan. Hanya karena sesuatu tidak dijalankan sebagaimana kebanyakan orang melakukannya, bukan berarti salah, ‘kan?

Percayalah, ini hanya soal perbedaan cara. Caraku untuk hidup dan bermanfaat bagi dunia ini bisa berbeda dengan caramu. Kehidupan ini penuh dengan manusia dengan pikiran yang kompleks. Tak mengapa kalau sesekali kamu heran bila ada yang mengambil jalan hidup berbeda. Tapi untuk memahami dan menghargainya, itu yang sering dilupakan.

Kuharap akan selalu ada tempat di masyarakat untuk orang-orang yang mengambil pilihan berbeda sepertiku. Dan kuharap, orang-orang berhenti menanyaiku “Emang nggak pengin berkeluarga? Emang nggak kesepian? Emang nggak pengin bahagia?”. Karena definisi bahagia setiap orang memang berbeda.

Sumber: Hipwee.com

Promot Content

What do you think?

Written by admin

Ustadz Abdul Somad (UAS) Raih Gelar Profesor dari Unissa Brunei Darussalam

Kurangnya Etika Berpakaian, Dipengaruhi Oleh Dunia Luar