20200402 232515 698x405 1
in ,

Derita Indonesia Ku

Ikhtisar – Sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, kepentingan rakyat dan keutuhan negara menjadi hal yang paling utama. Keduanya harus seiring; sejalan dan tak boleh bertentangan, sebab memiliki makna filosofis sebagai tali temali dan juga membentuk simpul guna mengikat persatuan dan kesatuan ditengah ke Bhinekaan Indonesia.

Sebagaimana tujuan terbentuknya suatu negara. Kepentingan Rakyat dan Keutuhan Negara ialah dua sisi dalam satu mata uang yang sama. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya terukir dalam filosofis groundslag dan norm fundamental bangsa, yang selanjutnya menjadi acuan bagi penguasa dalam merumuskan arah pembangunan negara serta kebijakan publik dalam situasi dan kondisi apapun.

Mirisnya nilai-nilai yang seharusya dapat menjadi realita, kini berubah menjadi narasi dalam setiap dialektika kaum elitis bangsa semata, belum dapat di ejawantahkan dalam sebuah tindakan nyata, sejak Indonesia merdeka. Kondisi inilah yang membuat negara tercinta, selalu mencucurkan air mata rakyatnya, yang dahulu berjuang berlinangan darah, air mata, dan mengorbankan nyawa.

Kita boleh bangga dengan frasa pertumbuhan pembangunan dalam setiap dekade, tetapi kita juga harus tajam dalam memandangnya, sehingga dapat menilai esensi dalam kemegahan pembangunan Indonesia saat ini, apakah kemegahan tersebut mengindikasikan bahwa kepentingan rakyat dan keutuhan negara telah terwujud!. Bukankah negara yang merdeka memiliki barometer rakyat yang sejahtera, dan negara yang berdaulat dilihat dari kemampuannya dalam mengelola keamanan, pertahanan Negara, dan Sumber daya alam yang ada.

Jawaban dari pertanyaan tersebut selalu berujung pada permainan angka dadu, dikocok degan perbandingan dan statistik, kemudian dilempar oleh penguasa pada ruang kepentingan, guna dikelola dan dikemas dalam paket sinopsis oleh para sangkuni istana untuk merasionalisasikan fakta yang tiada. Faktanya, rakyat jelata masih melata dalam mengais harta di seantero bumi nusantara yang hampir tiada karena telah di kuasai oleh China.

Kondisi menyedihkan ini, terjadi akibat perselingkuhan dua mahluk, yakni penguasa dan china. Rakyat jelata atau si miskin hanya bisa terdiam dalam jajahan dan cacian, bahkan tak dapat bersuara kendati merana. Mereka terbelenggu oleh represifnya tangan besi penguasa yang kapan saja bisa memasukkan mereka ke penjara ketika bersuara.

Mereka buta dan lupa sejarah perjuangan bangsa. Dahulu rakyat jelata atau si miskin lah yang banyak mengorbankan nyawa untuk merdeka, hari ini mereka di paksa untuk tak bersuara agar penguasa dapat semena-mena demi menjaga agar China sejahtera dan tidak kecewa. Soekarno pernah berkata bahwa “Rakyat jelata kekuatan perjuangan bangsa, sehingga kelak negara merdeka, maka mereka harus sejahtera”.

Pesan sang Founding Father Bangsa, hanya dekat dalam ingatan semata, tetapi jauh dari kenyataan yang ada. Bukankah atasan penguasa saat ini ialah anaknya yang selalu mengunakan nama ayahnya di akhir namanya!, dan bukankah seorang anak itu wajib untuk melaksanakan perintah ayahnya agar tidak durhaka!.

Wahai soekarno, China telah membuat anakmu menjadi tuli, buta, dan amnesia. Sehingga sebagai atasan penguasa dia tak mampu merasakan rintihan sengsara kaum jelata. Yang ada di benaknya ialah keinginan untuk berkuasa, walau usianya telah senja bahkan telah berbau tanah, namun hasratnya tak luntur dalam setiap langkahnya.

Kini China sahabat penguasa indonesia datang membuat ulah di Dunia degan wabah corona, si miskin di Indonesia pun mendapat imbasnya. Mereka di fitnah oleh sangkuni penguasa menjadi penyebar wabah corona bagi si kaya. Mereka di paksa untuk tidak melata dalam mencari harta untuk keluarga, dan di biarkan sengsara tanpa ada cerita yang dapat membuat mereka bisa tetap bahagia atau bertahan hidup selama pendemi corona menimpa.

Berbagai cara di buat penguasa Indonesia, untuk merantai aktivitas si miskin agar tidak bekerja. Lantas bagaimana mereka bisa menghapus air mata keluarga?, di antara susahnya mencari harta akibat China pembawa corona telah menguasai sendi-sendi usaha di Indonesia.

Merana dan derita menjadi akhir cerita si miskin Indonesia dari perselingkuhan antara penguasa dan China, sang penjajah negeri tercinta. Mereka kini ada dimana-mana, bahkan datang untuk bekerja di tengah wabah corona melanda Indonesia.

Indonesia akan menjadi Negara kenangan karena hutang, dan kelak akan hilang dalam lembaran sejarah kejayaan karena China gentayangan di setiap keputusan strategis kekuasaan dan menguasai perdagangan. Mungkin kita mengatakan ini hanyalah hayalan, tetapi covid 19 Wuhan dan banyaknya hutang kita pada China adalah jawaban, bahkan negara sekuat Amerika yang tanpa hutang meminta bantuan China untuk mengatasi covid 19 wuhan. Soekarno berkata “lebih baik miskin dari pada harus berhutang”.

Sumber: detikindonesia.co

What do you think?

Written by admin

20200402 215915 720x405 1

Mendulang Keuntungan Di Balik Covid-19

5d2c57a4d629a compress79

Kisah Nenek 107 Tahun Naik Haji, Shalat Tahajud Jadi Rahasia Panjang Umur