in

Racik Vaksin Corona, Johnson & Johnson Mulai Uji Coba pada September

Ikhtisar– Senin (30/3/2020) Johnson & Johnson mengatakan akan mulai menguji coba kandidat vaksin virus corona pada September 2020, dan siap untuk digunakan darurat awal tahun depan.

Perusahaan farmasi ini telah menandatangani perjanjian dengan Otoritas Penelitian dan Pengembangan Biomedis Lanjutan dari pemerintah Amerika Serikat (AS), dengan nilai investasi 1 miliar dollar AS (sekitar Rp 16,3 triliun).

Angka tersebut merupakan proyek vaksin terbesar meski perusahaan raksasa farmasi di AS ini belum memulai uji klinis seperti yang dilakukan perusahaan lainnya.

Kesepakatan itu ditandatangani oleh Kantor Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan Asisten Sekretaris untuk Persiapan dan Respons AS (ASPR) pada Jumat (27/3/2020).

Johnson & Johnson mulai meracik vaksin Covid-19 pada Januari, menggunakan teknologi yang sama untuk mengembangkan kandidat vaksin Ebola.

Paul Stoffels kepala petugas ilmiah perusahaan itu mengatakan, timnya telah menggabungkan virus flu biasa yang tidak dapat ditiru dengan bagian-bagian dari virus corona.

Hasil dari eksperimen ini diharapkan dapat memicu respons kekebalan manusia.

“Kami memiliki beberapa kandidat vaksin yang kami uji pada hewan untuk memilih yang terbaik, yang membutuhkan waktu 12 minggu, dari 15 Januari hingga hari ini,” kata Stoffels dikutip dari AFP.

Mereka juga harus mengevaluasi kandidat vaksin mana yang dapat ditingkatkan.

“Untuk memastikan di satu sisi itu berhasil, dan di sisi lain kita dapat menghasilkan banyak,” tambahnya.

Meskipun belum pernah ada vaksin manusia yang berhasil untuk keluarga virus corona, Stoffels mengatakan dia yakin dapat mencapai tonggak sejarah ini.

Keyakinannya berdasar pada Johnson & Johnson yang bekerja dengan tim yang sama saat mengembangkan kandidat vaksin SARS, yang menewaskan 800 orang antara tahun 2002-2003.

“Pertanyaannya adalah, dapatkah Anda berlindung dari infeksi atau berlindung dari penyakit parah?”

“Dalam banyak penyakit seperti influenza, ketika Anda melakukan vaksinasi setiap tahun, Anda melindungi diri dari penyakit parah. Anda tidak selalu berlindung dari infeksi,” lanjut Stoffels.

Johnson & Johnson juga harus memastikan vaksin ini tidak jadi bumerang, yang membuat orang berisiko lebih tinggi terkena penyakit.

Perusahaan itu mengatakan sedang memperluas kapasitas produksi globalnya ke AS dan di negara lain, untuk membantunya memasok lebih dari 1 miliar dosis vaksinnya di seluruh dunia

Perusahaan yang berbasis di New Jersey, AS, ini juga bekerja pada perawatan antivirus terhadap virus corona.

Kemudian secara terpisah, perusahaan farmasi Moderna asal AS sedang menguji coba vaksinnya ke manusia, seperti halnya CanSinoBIO di China.

Sampai sekarang belum ada vaksin yang disetujui untuk mengobati penyakit akibat virus corona.

Beberapa pengobatan juga masih diselidiki, termasuk obat antimalaria klorokuin dan hidroklorokuin, tetapi belum jelas apakah mereka menambahkan sesuatu ke perawatan standar.

Source: Kompas.com

Promot Content

What do you think?

Written by admin

Pesan dalam Botol Untuk Generasi Setelah Covid-19

Saat Jokowi Rencanakan Darurat Sipil Hadapi Pandemi Covid-19