in

Bacaan Sholat Lengkap Beserta Artinya Menurut 4 Imam Mazhab

Shalat bukan hanya sekedar ibadah ritual harian yang wajib bagi seorang muslim. Di dalam bacaan-bacaan sholat terkandung arti dan pesan moral yang sangat tinggi nilainya.

Sejak mulai takbiratul ihram hingga salam, orang yang sholat akan terasa damai, nyaman dan tenang, jika orang itu tahu arti bacaan sholat yang sedang diucapkan.

Dalam gerakan dan bacaan-bacaan sholat, kalau benar sholatnya, bisa membentuk karakter dan kepribadian seorang muslim yang baik, tangguh, kuat, produktif, inspiratif, respek, dan bertanggung jawab.

Untuk itulah, sudah sepatutnya setiap muslim harus tahu apa yang ia baca agar faham apa yang sedang ia kerjakan. Maka sebaiknya hafalkan bacaan sholat dan terjemahannya sekaligus, agar bisa khusu’ dalam menjalankan sholat.

Contents

Tuntunan sholat

Shalat adalah ibadah wajib yang harus dikerjakan setiap muslim yang baligh. Melaksanakan sholat harus sesuai aturan dan tatacara dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Shalat subuh dikerjakan dua rakaat, dhuhur empat rakaat, ashar empat rakaat, Maghrib tiga rakaat dan isyak empat rakaat. Berikut panduan dan tatacara shalat yang harus diketahui setiap muslim;

Bacaan sholat lengkap dan artinya

Sholat dimulai dari takbiratul ihram hingga salam, ada tuntunan khusus disetiap gerakan dan bacaannya. Berikut kami rangkumkan bacaan sholat dan artinya sesuai dengan pendapat 4 imam madzhab.

1. Niat

Ada beberapa perbedaan pendapat tentang pelafalan niat dalam bacaan sholat. Sebagian berpendapat lebih baik diucapkan, sebagian lagi memilih tidak perlu diucapkan.

Dikutip dari buku Ust Abdul Somad yang berjudul “77 Tanya Jawab Seputar Shalat”, setidaknya ada 4 perbedaan dalam hal mengucapkan niat. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Abu Bakar al-Jaza’iri dalam “al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah”:

  • Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali: Niat itu ibadah hati, ucapan lidah bukanlah niat, akan tetapi membantu untuk mengingatkan hati, kekeliruan pada lidah tidak memudharatkan selama niat hati itu benar.
  • Mazhab Maliki dan Hanafi: Melafazkan niat tidak disyariatkan dalam shalat, kecuali jika orang yang shalat itu merasa was-was.
  • Mazhab Maliki: Tidak melafalkan niat itu lebih utama bagi orang yang tidak merasa was-was, tapi dianjurkan melafazkan niat bagi orang yang was-was.
  • Mazhab Hanafi: Melafazkan niat itu bid’ah, tapi dianggap baik untuk menghilangkan was-was.

Kapan waktu untuk berniat?

Tiga mazhab sepakat; Mazhab Maliki, Hanafi dan Hanbali bahwa sah hukumnya jika niat mendahului Takbiratul Ihram dalam waktu yang singkat.

Berbeda dengan Mazhab Syafi’I, mereka berpendapat: niat harus beriringan dengan Takbiratu Ihram, jika ada bagian dari Takbiratul Ihram yang kosong dari niat, maka shalat itu tidak sah.

Niat harus diucapkan atau tidak?

Dari beberapa perbedaan diatas, dapat disimpulkan bahwa niat itu urusan hati. Orang yang tidak mengucapkan niat, sholatnya tetap sah. Orang yang memilih mengucapkan niat juga tidak salah dan tidak perlu dipermasalahkan.

Yang keliru adalah, orang sholat mengucapkan niat, tapi dalam hatinya bermaksut agar diperhatikan mertua atau calon istri. Atau dia sholat secara terpaksa karena dalam perusahaannya mewajibkan sholat. Ini namanya niatnya bukan Lillahi Ta’ala tapi karena ada maksut tertentu.

2. Takbiratul Ihram

Bila hendak menjalankan sholat, maka hadaplah ke kiblat dan pandangan tertuju ke arah tempat sujud. Ucapkan “Allahu Akbar” dengan niat ikhlas karena Allah sambil mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu, atau mensejajarkan kedua ibu jari dengan daun telinga.

Saat takbiratul ihram, telapak tangan menghadap ke arah kiblat, jari jemari tidak terlalu rapat dan juga tidak terlalu mekar, kemudian tangan disedekapkan pada dada.

Posisi tangan saat bersedekap dalam sholat

Letakkan tangan kanan di atas tangan kiri, adapun batasan posisi jari-jemari saat bersedekap, berikut pendapat beberapa madzhab:

  • Mazhab Hanbali dan Syafi’i: Meletakkan tangan kanan di atas lengan tangan kiri
  • Mazhab Hanafi: Meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri, bagi laki-laki melingkarkan jari kelingking dan jempol pada pergelangan tangan. Sedangkan bagi perempuan cukup meletakkan kedua tangan tersebut di atas dada (telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri) tanpa melingkarkan jari kelingking dan jempol.
  • Mazhab Hanafi dan Hanbali: Meletakkan tangan di bawah pusar, berdasarkan hadits dari Ali, ia berkata: “Berdasarkan Sunnah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, di bawah pusar”. (HR. Ahmad dan Abu Daud).
  • Mazhab Syafi’i: Dianjurkan memposisikan kedua tangan tersebut di bawah dada di atas pusar, agak miring ke kiri agar dekat dengan hati.
  • Mazhab Maliki: Dianjurkan melepaskan tangan (tidak bersedekap) dalam shalat, dengan lentur, bukan dengan kaku.
  • Pandapat yang rajih (terkuat) : pendapat jumhur (mayoritas) ulama adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, inilah yang disepakati.

3. Iftitah

Doa iftitah adalah bacaan sholat yang dibaca setelah takbiratul ihram dan posisi tangan sudah melipat . Adapun bacaan doa iftitah yang mashur di kalangan ulama’ adalah sebagai berikut:

Bacaan iftitah Madzhab Syafi’i

Madzhab Syafi’i memilih bacaan iftitah yang dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi. Diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib berdasarkan riwayat dari Ahmad, Muslim dan at-Tirmidzi.

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Wajjahtu wajhiya lilladzii fataras samawaati wal ardha haniifam muslimaw wamaa anaa minal musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil aalamiin. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa anaa minal muslimiin.

Artinya: “Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi dengan penuh ketulusan dan kepasrahan, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan, aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)”.

Bacaan doa iftitah Mazhab Hanafi dan Hanbali:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ

Subhaanakallahumma wabihamdka, watabaarokasmuka, wata’aala jadduka, walaa ilaha ghoiruka.

Artinya: “Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan segala puji-Mu, Maha Suci nama-Mu dan Maha Tinggi keagungan- Mu, tiada Tuhan selain Engkau”. (HR. Abu Daud dan ad- Daraquthni) dari riwayat Anas. Juga diriwayatkan Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’I, Ibnu Majah dan Ahmad dari Abu Sa’id.

Bacaan doa iftitah sholat menurut Majlis Tarjih Muhammadiyah:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ

Allaahumma baa‘id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa‘adta bainal-masyriqi wal-maghrib. Allaahumma naqqinii min khathaayaaya kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad-danas. Allaahummaghsilnii min khathaayaaya bil-maa’i wats-tsalji wal-barad.

Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana telah Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari dosa-dosa sebagaimana disucikannya kain yang putih dari kotoran. Ya Allah basuhlah dosa-dosaku dengan air, salju dan air yang sejuk”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

4. Al Fatihah

Setelah selesai membaca doa iftitah, bacaan sholat selanjutnya adalah membaca surat Al Fatihah.

Sebelum membaca Al Fatihah apakah harus Ta’awudz?

Ulama’ berbeda pendapat tentang membaca Ta’awudz (A’udzubillah) sebelum membaca Al Fatihah dan surat-surat dalam sholat.

Mazhab Maliki: Memilih tidak membaca Ta’awwudz dan Basmalah sebelum Al Fatihah.

Mazhab Hanafi: Mengucapkan Ta’awwudz pada rakaat pertama saja dan dibaca sirr (pelan).

Mazhab Syafi’i dan Hanbali: Dianjurkan membaca Ta’awwudz secara sirr (pelan) pada awal setiap rakaat sebelum membaca al-Fatihah, dengan mengucapkan:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

A’uudzu billaahi minasy syaithoonir rajiim.

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Apakah Basmalah dibaca jahr atau sirr ketika membaca Al Fatihah?

Ulama fiqih berbeda pendapat tentang hal ini, imam syafi’i memilih dibaca jahr (keras), Imam Hambali memilih dibaca (sirr), Imam Malik dan Imam Abu Hanifah tidak dibaca sama sekali. Berikut penjelasan tentang membaca bismillah dalam sholat menurut Ust Adi Hidayat:

Setelah membaca surat Al Fatihah, lanjutkan dengan membaca surat atau ayat-ayat pendek di dalam Al Qur’an.

5. Ruku’

Bacaan sholat selanjutnya adalah doa rukuk. Gerakan rukuk adalah mengangkat kedua tangan seperti takbiratul ihram sambil membaca “Allahu Akbar”. Kemudian badan dibungkukkan sambil tangan memegang kedua lutut. Usahakan punggung rata dan pandangan tertuju ke arah sujud.

Apa saja yang dibaca saat ruku’?

Ada beberapa riwayat tentang bacaan ruku’ saat sholat, dan semuanya berdasarkan hadist Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Riwayat pertama:

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ

Subhaana rabiyal ‘adhiim (3x)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika ruku’ mengucapkan: “Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung” tiga kali. (HR. Abu Daud, at-Tirmizi, Ibnu Majah, ad-Daraquthni dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir).

Riwayat kedua:

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ

Subhaana rabiyal ‘adhiimi wa bihamdih (3x)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika ruku’ mengucapkan: “Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung dan dengan Segala Puji-Nya”. Tiga kali. (Hadits riwayat Abu Daud, ad-Daraquthni dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra).

Riwayat ketiga:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِى

Subhaanaka Allahumma robbanaa wa bihamdika allahummagh firlii

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sering membaca pada ruku’ dan sujudnya: “Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan pujian-Mu Ya Allah ampunilah aku”. (HR. Ibnu Majah dan Ahmad bin Hanbal) diriwayatkan dari Aisyah istri Nabi.

Masih ada beberapa riwayat lain tentang bacaan ruku’, hanya saja tiga doa diataslah doa ruku’ yang paling masyhur di Indonesia.

6. I’tidal

Setelah ruku’ adalah i’tidal, yaitu bangkit berdiri tegak kembali dengan mengangkat kedua tangan seperti takbiratul ihram sambil mengucap:

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

Sami’allaahu liman hamidah.

Artinya: “Allah Maha Mendengar orang yang memujiNya.”

Setelah berdiri tegak, lanjutkan dengan membaca:

[ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ]

atau [رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ]

atau [اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ]

Rabbanaa lakal hamdu, atau Rabbanaa wa lakal hamdu, atau Allahumma rabbanaa wa lakal hamdu.

Artinya: “Wahai Rabb kami, bagimulah segala puji.”

Saat sholat berjama’ah, ketika i’tidal makmum tidak perlu mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah. Cukup imamnya saja yang mengucapkan, makmum hanya membaca: Rabbanaa lakal hamdu, atau Rabbanaa wa lakal hamdu, atau Allahumma rabbanaa wa lakal hamdu.

Bacaan tambahan dalam i’tidal

Selain bacaan diatas, ada jalur riwayat lain yang menerangkan tentang doa i’tidal dalam sholat. Dari Ibnu Abi Aufa, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam itu ketika mengangkat pundaknya dari ruku’, ia mengucapkan:

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ

Sami’alloohu liman hamidah, Allohumma robbanaa lakal hamdu mil’as samaawaati wal ardli wa mil-a maa syi’ta min syai’in ba’du.

Artinya: Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya. ya Allah Rabb kami, segala puji bagi-Mu, sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apapun yang Engkau kehendaki”. (HR. Muslim)

7.Sujud

Setelah i’tidal sempurna, berdiri tegak sekaligus membaca bacaannya, lanjutkan dengan sujud. Ucapkan “Allahu Akbar” tanpa mengangkat kedua tangan.

Letakkan kedua lutut dan jari-jari kaki di atas lantai, lalu kedua tangan, kemudian dahi dan hidung, dengan menghadapkan ujung jari tangan dan kaki ke arah Qiblat serta merenggangkan tangan dari kedua lambung dengan mengangkat siku.

Waktu sujud, manakah yang terlebih dahulu turun menyentuh lantai, telapak tangan atau lutut?

Ada dua hadits yang berbeda dalam masalah mana yang lebih dahulu menyentuh lantai saat sujud.

Hadits pertama:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang kamu sujud, maka janganlah ia turun seperti turunnya unta, hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. (HR. Abu Daud).

Hadits kedua:

Dari Wa’il bin Hujr, ia berkata: “Saya melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ketika sujud ia meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Ketika bangun ia mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya”.
(HR. Abu Daud, an-Nasa’I dan Ibnu Majah).

Ulama berbeda pendapat dalam mengamalkan kedua hadits ini.

Mazhab Syafi’i, Hanafi dan satu riwayat dari Imam Malik menyebutkan bahwa mereka memilih untuk mendahulukan lutut daripada telapak tangan.

Satu riwayat dari Imam Malik dan al-Auza’i mengamalkan hadits yang menyatakan lebih mendahulukan tangan daripada lutut.

Apa yang dibaca saat sujud?

Ada banyak riwayat yang menerangkan tentang bacaan sujud dalam shalat, hanya saja di Indonesia yang paling masyhur adalah bacaan-bacaan berikut ini:

Doa sujud pertama:

Ketika sujud, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca doa ini tiga kali:

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

Subhaana robbiyal ‘a’la wabihamdih (3x)

Artinya: Mahasuci Tuhanku yang Mahatinggi dan dengan segala Pujian bagi-Nya. (HR. Abu Daud, Ahmad, ad-Daraquthni, ath-Thabrani dan al-Baihaqi).

Doa sujud kedua:

Ketika sujud, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan tiga kali pada sujudnya:

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْأَعْلَى

Subhaana robbiyal ‘a’la (3x)

Artinya: “Mahasuci Tuhanku yang Mahatinggi.”(HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan ath-Thabrani).

Doa sujud ketiga:

Diriwayatkan dari Aisyah istri Nabi, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca pada ruku’ dan sujudnya:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِى

Subhaanaka Allahumma robbanaa wa bihamdika allahummagh firlii.

Artinya: “Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan pujian-Mu Ya Allah ampunilah aku”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Doa sujud ke empat:

Ketika sujud, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca:

اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Allahumma laka sajadtu, wa bika aamantu wa laka aslamtu, sajada wajhiya lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.

Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu sujudku, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Dia yang telah menciptakannya, membentuknya, menciptakan pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta”. (HR. Muslim).

8. Duduk diantara dua sujud

Setelah sujud dengan sempurna, langkah selanjutnya adalah duduk antara dua sujud. Angkat kepala sambil Takbir dengan membaca “Allahu Akbar”, kemudian bacalah salah satu doa berikut ini:

Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diantara dua sujud mengucapkan:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَعَافِنِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِى

Allaahummaghfirlii warhamnii a’aafinii wahdinii warzuqnii

Artinya: “Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, lindungilah aku, berilah aku petunjuk dan berilah aku rezeki.” (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim).

Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam saat duduk diantara dua sujud membaca:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِى

Allohummaghfirlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii

“Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah aku, berilah petunjuk kepadaku, dan berilah rizki untukku”.

Adapun bacaan doa duduk diantara dua sujud menurut Mazhab Syafi’I, Mazhab Maliki dan Mazhab Hanbali yang masyhur adalah:

رَبِّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَارْفَعْنِى وَارْزُقْنِى وَاهْدِنِى وَعَافِنِى

Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’ni warzuqnii wahdinii wa’aafinii

Artinya: “Ya Rabbku ampunilah aku, rahmatilah aku, muliakanlah aku, angkatlah aku, berilah aku rezeki, berilah aku hidayah dan berilah aku kebaikan”. (Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Liqa’at al-Bab al-Maftuh)

9. Tasyahud awal

Tasyahud awal dilakukan pada rakaat kedua, setelah selesai dari sujud yang kedua. Duduklah di atas kaki kiri dan letakkanlah kedua tangan diatas lutut.

Julurkan jari-jari tangan kiri, sedangkan tangan kanan menggenggam jari kelingking, jari manis dan jari tengah, serta mengacungkan jari telunjuk dan sentuhkan ibu jari pada jari tengah.

Diriwayatkan dari Adullah bin Abbas dalam hadis riwayat Imam Muslim bacaan tahiyat awal adalah sebagai berikut:

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

Attahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillaah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rohmatulloohi wa barokaatuh. Assalaaamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadar rosuulullooh.

Artinya: Segala penghormatan, keberkahan, shalawat dan kebaikan hanya bagi Allah. Semoga salam sejahtera selalu tercurahkan kepadamu wahai Nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkahNya dan semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada ilah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah (HR. Muslim).

Sedangkan bacaan tahiyat awal dari Abdullah bin Mas’ud diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam kitabnya Shahihul Bukhari adalah sebagai berikut;

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Attahiyyatu lillaah wash sholawaatu wath thoyyibaat. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rohmatulloohi wa barokaatuh. Assalaaamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallooh wa asyhadu anna ‘abduhu warosuuluh.

Artinya: Segala penghormatan, shalawat dan kebaikan-kebaikan hanya bagi Allah. Semoga salam sejahtera selalu tercurahkan kepadamu wahai Nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkah-Nya dan semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada ilah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Setelah membaca doa diatas, lanjutkan dengan membaca sholawat kepada Nabi yang bunyinya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shollaita ‘ala Ibroohim wa ‘ala aali Ibrohim, innaka hamidun majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa baarokta ‘ala Ibrohim wa ‘ala aali Ibrohimm innaka hamidun majiid.

Artinya: “Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia”. (HR. Bukhari & Muslim)

10. Tasyahud akhir

Duduk dalam tahiyat akhir ini caranya sama seperti tahiyat awal, hanya saja kaki kiri tidak diduduki. Bacaanya pun sama seperti doa pada tahiyat awal, ditambah juga bacaan sholawat kepada Nabi. Tapi pada tasyahud akhir, sebelum salam ditambahkan membaca doa perlindungan berikut:

الَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Allaahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabi jahannama, wa min ‘adzaabil qobri, wa min fitnatil mahya wal mamaati, wa min syarri fitnatil masiihid dajjal.

Artinya: “Ya Allah saya berlindung kepadaMu dari siksa api neraka jahannam, dan dari siksa kubur, dan dari fitnah kehidupan serta kematian, dan juga dari fitnah keburukan Al Masih Dajjal”.

11. Salam

Setelah membaca doa memohon perlindungan dari keburukan pada tahiyat akhir, selanjutnya adalah salam.

Berpalinglah ke kanan dan kiri sambil membaca salam:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Assalaamu’alaikum wa rahmatullah

Artinya: “Semoga keselamatan dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu.”

Demikian tata cara sholat menurut 4 imam madzhab. Semua gerakan dan bacaan sholat di atas tidak boleh dilakukan dengan terburu-buru. Hayati setiap arti bacaan sholat tersebut agar bisa mengerjakan dengan khusu’ dan sempurna.

Source: diarysangguru.com

Promot Content

What do you think?

Written by admin

Sukses Gelar Anniversary Ke-3, Founder Berharap Kedepannya B2SC Makin Solid

Penjual Ikan Sukses Antar Putranya Jadi Tentara, Polisi, dan Sekuriti Semen Tonasa